IDI Heran 3 Capres Tak Bahas Alkes-Farmasi, 90 Persen Bahan Obat RI Masih Impor

Sugeng rawuh Steecy di Portal Ini!

Jakarta – IDI Heran 3 Capres Tak Bahas Alkes-Farmasi, 90 Persen Bahan Obat RI Masih Impor

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr. Adib Humaidi mengeluhkan belum ada satupun calon presiden yang menjawab persoalan pembiayaan kesehatan di Indonesia yang masih tergolong mahal. Padahal, hal ini menjadi permasalahan besar di tengah puncak kemandirian Indonesia dalam bidang alat kesehatan dan obat-obatan yang masih tertinggal dibandingkan negara lain. Mengkhawatirkan! Angka Kematian Ibu di RI Tinggi, Kemenkes Ungkap Pemicu Terbanyak

Menurut Dr. Adib masih mengimpor bahan baku medis hingga 90 persen.

Ketiganya tidak membahas bahwa kendala pembiayaan kesehatan kita adalah mahal karena obat dan alat kesehatan belum menjadi program prioritas pemerintah, padahal ada bahasa untuk menjaga independensi alat kesehatan dalam praktiknya. masih tinggi, lebih dari 90 persen bahan bakunya masih diimpor.” jelas Dr. Adib saat ditemui detikcom, Minggu (2 April 2024).

“Pajak produksinya juga ada, pajak distribusinya juga ada, makanya konsep kita harus ada tata kelola regulasinya,” tegasnya.

Masalah ini juga disinggung oleh Ketua Umum Gakeslab Indonesia Rd Kartono Dwidjosewojo. Siapapun presiden yang terpilih, sangat penting untuk meningkatkan kemandirian produksi alat kesehatan dalam negeri.

Terbukti dari pengalaman menangani wabah Covid-19, Indonesia terpaksa menunggu untuk mengimpor alat kesehatan dari banyak negara yang juga menghadapi wabah serupa, sehingga mengakibatkan keterlambatan diagnosis dan pengobatan.

Idealnya, suatu negara bisa secara mandiri memproduksi peralatan dan bahan baku kesehatan sebanyak 60 persen dari kebutuhan. IDI Heran 3 Capres Tak Bahas Alkes-Farmasi, 90 Persen Bahan Obat RI Masih Impor

“Yang jelas amanah kita, siapa pun yang menang, utamakan manufaktur lokal, 3 cawapres itu selalu bicara kesehatan. Bagaimana kita mau maju kalau kita sendiri tidak bisa berproduksi di dalam negeri menjadi lebih baik lagi,” jelas Kartono saat ditemui detikcom di Mercure Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (18/1/2024).

“Karena kalau kita terus membeli dari impor, kita tidak akan mampu bertahan. Karena seluruh dunia saat ini, seperti contoh kemarin ketika ada Covid-19, masing-masing negara memproduksi sendiri, baru setelah pasokan dalam negerinya terpenuhi, kita akan ekspor “Kita tidak ingin hal ini terjadi lagi,” tegasnya.Saksikan video “IDI: Indonesia butuh dokter spesialis, bukan 300 fakultas kedokteran” (naf/up)