Seseorang dalam Kondisi Depresi Dapat Dilihat dari Mata, Ini Tandanya

Sugeng rawuh Steecy di Situs Kami!

Jakarta – Seseorang yang mengalami depresi terlihat dari matanya. Gejala umum depresi adalah perasaan sedih, kehilangan minat atau kenikmatan terhadap aktivitas yang biasa Anda nikmati, dan penurunan berat badan yang tidak disengaja. Seseorang dalam Kondisi Depresi Dapat Dilihat dari Mata, Ini Tandanya

Namun dilansir dari Science Alert, ada juga gejala fisik yang bisa dikaitkan dengan depresi, salah satunya adalah rasa kantuk.

Kelelahan pada depresi bisa sangat parah sehingga pasien merasa sulit melakukan aktivitas sehari-hari.

Mereka bisa merasa lelah sepanjang waktu, bahkan setelah cukup tidur. Selain itu, mereka juga mungkin mengalami kesulitan berkonsentrasi, berkonsentrasi, dan mengambil keputusan. 5 Cara Paling Mendasar untuk Cegah Kanker dalam Tubuh

Kelelahan akibat depresi bisa terlihat di mata. Orang dengan depresi mungkin mengalami penglihatan kabur, penglihatan kabur, atau penglihatan kabur. Selain itu, mereka mungkin juga memiliki lingkaran hitam di bawah matanya.

Berikut beberapa tanda kelelahan pada depresi yang bisa Anda lihat dengan mata Anda:

Mata halus

Bentuk kosong

Mata kabur

Lingkaran hitam di bawah mata

Namun, penting untuk diingat bahwa tanda-tanda tersebut tidak selalu menunjukkan depresi. Tanda-tanda tersebut bisa disebabkan oleh faktor lain seperti kurang tidur, anemia atau kelelahan fisik.

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami rasa kantuk yang parah dan tidak dapat dijelaskan penyebabnya, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau psikolog. Depresi adalah penyakit mental serius yang memerlukan pengobatan yang tepat.

Berikut beberapa tips untuk mengatasi rasa kantuk pada depresi:

Tidurlah.

Berolahraga secara teratur.

Makan makanan yang sehat dan bergizi. Seseorang dalam Kondisi Depresi Dapat Dilihat dari Mata, Ini Tandanya

Hindari kafein dan alkohol.

Luangkan waktu untuk beristirahat dan bersantai.

Jika Anda merasa tidak bisa mengatasi rasa kantuk sendiri, konsultasikan dengan dokter atau psikolog.