OJK: Pasar Saham Indonesia Masih Kuat Meski Ekonomi Global Melambat

Steecy, Kantor Jasa Keuangan (OJK) Jakarta mencatat, pasar saham Indonesia masih menunjukkan penguatan hingga 16 Februari 2024 di tengah pelemahan perekonomian global.

Direktur Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Derivatif Keuangan, dan Bursa Pengorbanan OJK Inarno Jajadi menilai hal tersebut membuktikan IHSG naik 0,86 persen YTD ke 7.335,55 dan mencatatkan beli bersih Rp 20,05 triliun YTD. Pada 5 Januari 2024, IHSG mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di 7.403,08.

“Beberapa sektor yang masih kuat di IHSG pada Februari 2024 (hingga 16 Februari 2024), antara lain sektor kesehatan dan sektor konsumsi primer,” kata Inarno saat konferensi pers Rapat Tahunan Industri Jasa Keuangan 2024 OJK, Selasa (20 ) / 2/2024).

Lebih lanjut, Inarno menyebutkan dari sisi pertumbuhan, nilai kapitalisasi pasar saham pada 16 Februari 2024 tercatat sebesar Rp 11,603 triliun atau YTD, turun tipis 0,61 persen. Pada 4 Januari 2024, nilai kapitalisasi pasar mencapai kapitalisasi pasar tertinggi sepanjang masa yakni Rp 11,810 triliun. Dari sisi likuiditas transaksi, rata-rata nilai transaksi pasar saham hingga 16 Februari 2024 tercatat sebesar 10,66 triliun YTD.

Sementara di pasar obligasi, ICBI Bond Market Index naik 0,60% menjadi 376,87 pada 16 Februari 2024. Secara tahunan (13 Februari 2024), imbal hasil SBN seluruh tenor meningkat rata-rata 4,73 bps dengan penjualan bersih nonresiden sebesar Rp3,30 triliun YTD.

“Untuk pasar obligasi korporasi, investor nonresiden juga mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp1,59 triliun YTD,” ujarnya.

Kemudian di bidang pengelolaan investasi, nilai pengelolaan investasi (AUM) per 15 Februari 2024 tercatat sebesar Rp 800,30 triliun (turun 2,96% YTD) dengan nilai aset bersih (NAV) reksa dana. Rp477,28 triliun atau turun 4,82 persen, mencatatkan laba bersih Rp5,29 triliun.

Menariknya, Inarno mengatakan antusiasme penggalangan dana pasar modal masih terlihat dengan nilai penawaran umum tercatat Rp 12,34 triliun dan 11 emiten baru hingga 16 Februari 2024.

Sementara itu, masih terdapat 86 pipeline penawaran umum dengan perkiraan nilai Rp 50,02 triliun, termasuk rencana IPO 59 emiten baru.

Sedangkan untuk penggalangan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF) yang merupakan alternatif pembiayaan bagi usaha kecil dan menengah, sejak berlakunya aturan SCF hingga 16 Februari 2024, terdapat 16 penyelenggara yang mendapat izin dari OJK dengan 509 emiten. 169.851 investor. , dan total yang terkumpul sebesar Rp 1,07 triliun.

Emiten Baru Wajib Lapor Riset Perusahaan, Apa Saja Isinya?

Steecy, Jakarta Bursa Efek Indonesia (BEI) mewajibkan emiten baru untuk menyampaikan survei atau laporan penelitian mengenai prospek perusahaan setelah listing di bursa. Hal ini sebagai upaya memperkuat perlindungan investor, mengingat masih ada perusahaan di bursa yang belum meraup keuntungan.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menjelaskan, laporan penelitian yang disampaikan setidaknya mencakup beberapa poin. Ini mencakup profil perusahaan, analisis mikro dan makro, prospek bisnis dan kinerja keuangan. Jangan lupa sertakan metode evaluasi, hasil evaluasi, dan detail relevan lainnya.

Selain itu, laporan penelitian menggunakan lebih dari satu metode evaluasi yang akurat dan obyektif. Artinya, memperhatikan kegiatan usaha perusahaan, serta pendekatan, metode dan prosedur evaluasi yang sesuai dengan definisi nilai dan karakteristiknya. “Laporan riset yang masuk ke bursa tidak berisi rekomendasi beli atau jual, atau kesimpulan overvaluation atau undervaluation,” kata Nioman kepada wartawan, Rabu (14/4/2024). Kirimkan makalah penelitian Anda dua kali.

Perusahaan harus menyampaikan laporan penelitian dua kali: sebelum listing dan setelah listing. Sebelum melakukan pencatatan, bursa mewajibkan calon perusahaan tercatat untuk menyerahkan laporan penelitian selama proses permohonan pencatatan, menggunakannya sebagai bagian dari proses evaluasi bursa, dan tidak mengungkapkannya kepada pihak lain. Setelah terdaftar, bursa saham mengharuskan perusahaan untuk mengajukan laporan penelitian dua kali setelah pencatatan di bursa: enam bulan dan dua belas bulan setelah pencatatan.

“Hasil evaluasi analis memberikan gambaran mengenai kewajaran harga saham suatu perusahaan dan menjadi dasar bagi pasar saham untuk mengevaluasi dan memantau perusahaan. Selain itu, laporan riset ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik pasar dan mengekspos emiten baru tersebut kepada publik,” jelas Nioman.

Bursa juga telah meminta secara tertulis kepada anggota Bursa (AB) yang merupakan calon penjamin emisi emiten. Ketentuan ini berlaku bagi calon emiten yang mengajukan permohonan pencatatan pada atau setelah tanggal 15 Agustus 2023.

“Perusahaan tercatat yang tunduk pada ketentuan tersebut baru akan tercatat pada Januari 2024.” Oleh karena itu, emiten tidak wajib menyampaikan laporan penelitian,” tambah Nioman.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengingatkan emiten baru untuk menyampaikan laporan riset atau survei prospek perusahaan setelah listing di bursa.

I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, mengatakan perusahaan diminta menyampaikan laporan penelitian dua kali: sebelum listing dan setelah listing.

Sebelum melakukan pencatatan, bursa mewajibkan calon perusahaan tercatat untuk menyerahkan laporan penelitian selama proses permohonan pencatatan, menggunakannya sebagai bagian dari proses evaluasi bursa, dan tidak mengungkapkannya kepada pihak lain.

Setelah terdaftar, bursa saham mengharuskan perusahaan untuk mengajukan laporan penelitian dua kali setelah pencatatan di bursa: enam bulan dan dua belas bulan setelah pencatatan.

“Jadi kalau evaluasi, laporan penelitiannya untuk kita dulu. Nanti dalam setahun minimal satu laporan penelitian akan diterbitkan,” kata Nioman kepada wartawan di Gedung Bursa, Selasa (13 Februari 2024). ).

Penilaian yang dilakukan bursa termasuk mengevaluasi harga penawaran terkait IPO. Meski hak untuk menetapkan harga merupakan hasil diskusi dan kesepakatan antara pihak pengakuisisi dan perusahaan, namun laporan investigasi dapat menjadi acuan apakah perusahaan yang diakuisisi telah menetapkan kisaran harga yang wajar.

“Tentu saja bursa tidak bisa memaksa para pihak untuk menentukan harga. Tapi karena price point yang kami dapat, (laporan penelitian) menjadi dasar argumen kami,” kata Nioman.

Bursa juga telah meminta secara tertulis kepada Anggota Bursa (AB) yang merupakan penjamin emisi calon emiten atau calon emiten. Ketentuan ini berlaku bagi calon emiten yang mengajukan permohonan pencatatan pada atau setelah tanggal 15 Agustus 2023.

“Perusahaan tercatat yang tunduk pada ketentuan tersebut baru akan tercatat pada Januari 2024.” Oleh karena itu, emiten tidak wajib menyampaikan laporan penelitian,” tambah Nioman.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mendukung perusahaan-perusahaan dari berbagai ukuran dan sektor untuk berpartisipasi dalam pembiayaan pasar modal melalui penawaran umum perdana (IPO). Sayangnya, bahkan perusahaan yang berkinerja buruk pun bisa melewati tahap ini. Masih mencatat kerugian, melunasi hutang, dll.

Karena situasi tersebut, pelaku pasar meminta bursa menyesuaikan pencatatan saham hanya perusahaan-perusahaan yang meraup untung. Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, menjelaskan tindakan tersebut sudah dilakukan. Namun seiring berjalannya waktu, prospek masa depan suatu perusahaan juga menjadi pertimbangan dalam mencatatkan saham suatu perusahaan.

“Beberapa tahun lalu kami membuat klausul keuntungan wajib. Seiring berjalannya waktu, selain pertandingan bersejarah, kami juga melihat performa pertandingan.” kata Nioman kepada wartawan di Gedung Bursa, Selasa (13 Februari 2024).

Untuk saat ini, bursa mengelompokkan perusahaan berdasarkan dewan direksinya, kata Nioman. Ada papan utama, papan ekonomi baru, papan pengembangan, papan akselerasi, dll. Pengelompokan ini diharapkan dapat memudahkan investor dalam mengkaji status fundamental emiten.

Analis: Kinerja Positif Saham BBRI Diprediksi akan Terus Berlanjut di Tahun Ini

Steecy, JAKARTA – Analis Panin Securitas memperkirakan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI akan tetap positif, berdasarkan riset Nico Lorenzo. Hasil positif pada tahun ini didorong oleh pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibandingkan industri, pertumbuhan NIM dan membaiknya rasio biaya terhadap pendapatan.

“Kami melihat BRI yang positif; “(1) pertumbuhan kredit lokal, khususnya pada segmen high-yield seperti Kupedes, (2) momentum digital memperkuat penyaluran kredit dan pendanaan perseroan, dan (3) NIM yang stabil,” tulis Panin Securitas dalam catatan risetnya, dikutip Selasa (13/8/2021). 13) . 2). /2024).

Begitu pula dengan target harga saham BBRI 12 bulan ke depan sebesar Rp 6.575,09 per saham berdasarkan konsensus analis 35 analis yang dihimpun Bloomberg. 34 analis merekomendasikan beli saham BBRI.

Baru-baru ini, Analis OCBC Sekuritas Budi Rustanto mengeluarkan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 6.500 per saham. Setelah Jayden Vantarakis, analis Macquarie mengeluarkan rekomendasi beli dengan target harga Rp 7.100 per saham.

BBRI kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa di Bursa Efek Indonesia. Pada akhir perdagangan Senin (12/02/2024), saham BBRI menguat 2,99 persen. hingga Rp 6.025 per saham dan kapitalisasi pasar Rp 913,14 triliun.

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, kinerja saham BBRI yang tinggi sepanjang masa mencerminkan kinerja keuangan yang mengesankan. “Para pemegang saham ini bersyukur atas kinerja positif perseroan yang terus berlanjut hingga tahun 2023.” Desember. akhirnya,” kata Sunarso.

Asosiasi Emiten Indonesia Kukuhkan Pengurus Baru Periode 2023-2026 di BEI

JAKARTA – Kepengurusan Asosiasi Penerbit Indonesia (AEI) periode 2023-2026 resmi dilantik di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (2/2/2024). Ini merupakan proses terakhir setelah pengangkatan pengurus pada konferensi anggota AEI pada 14 September 2023.

Asosiasi emiten merupakan mitra strategis Self-Regulatory Organization (SRO) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mendorong perkembangan pasar modal Indonesia, serta mensosialisasikan kebijakan regulator.

Ketua Umum AEI terpilih Armand Wahyudi Hartono mengatakan pertumbuhan ekosistem pasar modal Indonesia menjadi salah satu yang terdepan di Asia Tenggara. Baginya, ini merupakan peluang untuk meningkatkan kualitas emiten melalui sinergi program antara AEI dengan SRO dan OJK.

“Kami di Asosiasi Penerbit Indonesia merupakan komunitas bersama para penerbit yang memajukan negara melalui pasar modal. Program kami masih sama, mulai dari edukasi kepada calon penerbit hingga peraturan asosiasi untuk mencapai kepatuhan,” kata Armand di BEI. gedung, Jumat (2/2/2024).

Rangkaian program yang menjadi fokus AEI antara lain berkontribusi terhadap pendalaman produk pasar modal, peraturan asosiasi yang bervariasi mulai dari kepatuhan perpajakan, standar pelaporan keuangan, tata kelola organisasi yang baik, hingga prinsip-prinsip ESG.

“Kami juga berbagi berbagai jenis informasi, tentang update peristiwa di luar negeri dan di dalam negeri, tentang perekonomian, tentang teknologi, segala hal yang dapat membantu penerbit untuk bertahan dan berkembang,

Armand menegaskan, pencapaian penawaran umum perdana (IPO) tertinggi pada tahun 2023 harus didukung oleh penerapan kebijakan tata kelola yang baik oleh perusahaan.

Melalui kepengurusan baru ini, Armand – yang merupakan Wakil Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) – menegaskan pihaknya akan memperkuat program sebelumnya.

“Kami berharap dengan komunitas yang baik ini kita bisa saling mentransfer energi, mentransfer ilmu, sehingga yang sudah unggul bisa menularkannya kepada yang lain, sehingga melahirkan pemain pasar modal kelas dunia,” jelasnya.

Direktur Penilaian Korporasi BEI I Gede Nyoman Yetna menambahkan pihaknya berharap AEI dapat tetap relevan dengan perkembangan saat ini. Nyoman berharap AEI dapat membantu meningkatkan kualitas emiten sekaligus tetap menjadi mitra strategis bursa dalam mengkomunikasikan kebijakan kepada emiten.

“Pasar saham terus mendorong perusahaan-perusahaan yang belum memanfaatkan pasar modal untuk menjadi emiten sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” tutupnya.