Viral 2024 Tahun Janda, Benarkah?

JAKARTA – Ada perdebatan di media sosial di China mengenai apakah tahun 2024 adalah tahun para janda sehingga belum siap menikah. Kontroversi ini menimbulkan seruan agar pemerintah Tiongkok mengambil tindakan untuk menindak mitos tersebut. Sebab, ada kekhawatiran akan menurunnya angka kelahiran dan meningkatnya angka kematian.

Dalam penanggalan Tionghoa, tahun 2024 adalah tahun Naga. Mitos yang populer adalah tahun 2024 adalah tahun janda sehingga menjadi tahun buruk untuk menikah.

“Ada rumor populer bahwa tahun ini adalah tahun para janda dan tidak cocok untuk menikah. Ini sangat menyimpang dari kebijaksanaan konvensional dan ilmiah,” bunyi surat kepada Kementerian Urusan Masyarakat Tiongkok yang beredar di media sosial, seperti dilansir Business Insider , Sabtu (27/1/2024).

Belum jelas siapa pengirim surat tersebut pada awal Januari lalu dalam rapat tingkat menteri yang menerima pertanyaan terbuka dari warga. Namun, mereka sebenarnya meminta Beijing mengeluarkan pernyataan publik yang menyarankan masyarakat untuk tidak membiarkan takhayul memengaruhi keputusan hidup mereka.

Dan tampaknya keinginan tersebut diterima oleh pemerintah. “Kami memperhatikan saran Anda,” tulis Kementerian Urusan Masyarakat Tiongkok.

Tanggapan tersebut memicu perdebatan tentang keabsahan keyakinan masyarakat, dengan lebih dari 300 juta kali melihat artikel tersebut di Weibo. Kepercayaan atau legenda ini menunjukkan tidak adanya hari pertama musim semi, yang juga dikenal sebagai lichun, di awal tahun lunar. Lichun tahun ini akan jatuh pada tanggal 4 Februari, sebelum Tahun Baru Imlek dimulai pada tanggal 10 Februari, yang berarti tahun depan tidak termasuk awal musim semi.

Tahun lunar ini terkadang disebut Tahun Janda karena takhayul kuno mengasosiasikan musim semi dengan kekuatan laki-laki, dan menikah pada saat ini diyakini membawa nasib buruk dan perceraian. “Tahun berapa tidak ada janda? Apa hubungannya musim semi dengan itu?” tulis blogger Beijing Menangis, Cekikikan, Tertawa di Weibo.

“Pasti ada alasan mengapa peradaban manusia berusia ribuan tahun ini,” tulis salah satu pembela takhayul ini.